Affan lapar. Bisa jadi karena kebanyakan belajar sains kuark. Bisa jadi karena habis bertengkar dengan kakaknya. Jadi Nadya juga lapar. Saya juga lapar. Mama sendiri yang beda, karena barusan habis makan. Pas kenyang-kenyangnya.
Kami bertiga keluar menuju warung nasi goreng di ruko. Di kompleks perumahan tempat kami tinggal, ada ruko di kiri-kanan jalan yang menyajikan berbagai variasi kuliner. Warung nasi goreng langganan kami terletak di kiri jalan, sekitar 20 meter setelah warung soto mie yang juga menjadi langganan kami. Beberapa meter sebelum melewati warung soto mie, saya pelankan laju kendaraan dan saya re-check ke anak-anak, apakah mau soto mie. Mereka konsisten. Tetap pengin nasi goreng.
Tiga piring nasi goreng dengan masing-masing telornya yang dobel (satu telor dicampur, satu mata sapi), dua gelas teh hangat dan satu gelas jeruk hangat segera saja habis. Total 58 ribu. Saya bayar dengan satu lembar uang 100 ribu, dapat kembalian 43 ribu. Karena kembaliannya kebanyakan, saya kembalikan yang 1 ribu. Yang jualan nasi goreng tidak langsung menerima satu lembar uang 1 ribu, berpikir dulu, menghitung kembali, habis itu tersenyum dan menerima uang 1 ribunya.
Setelah semuanya masuk mobil, saya tanyakan ke anak-anak, kenapa saya tadi mengembalikan uang 1 ribu. Sekalian saya juga pengin tahu apakah anak-anak memperhatikan detil seperti itu. Mereka ternyata memperhatikan. "Karena papa ingin berbuat baik." Oke, tidak salah, itu juga betul, secara umum. Secara khusus? Mereka tidak langsung jawab. Saya ulangi kejadian tadi dalam bentuk cerita ringkas sambil mulai menyalakan mobil. Alhamdulillah akhirnya keluar juga yang saya tunggu: "Kan habisnya 58 ribu kan? Kembaliannya 42 ribu lah. Omnya kasih papa 43 ribu, kebanyakan 1 ribu tuh."
Hari itu teman kuliah saya yang sekarang bekerja di Timur Tengah mengirimkan sebuah grafik berisi data korupsi partai-partai politik di Indonesia, beserta sebuah pertanyaan, adakah hubungan antara usulan remisi koruptor dengan kenyataan yang ada di grafik itu.
Saya tahu kita harus melek politik. Tapi apa yang bisa saya lakukan saat ini? Membuat penelitian untuk mengetahui pengaruh kenyataan yang ada di grafik itu dengan usulan remisi? Bisa jadi itu adalah sebuah penelitian yang sangat beresiko dan sepertinya tidak direkomendasikan oleh Pak Yohanes, dosen saya yang rajin ambil doktor dan master, lulusan lemhanas yang pernah wanti-wanti supaya tidak memilih topik penelitian yang mencampuri urusan hidup dan menyinggung perasaan orang lain.
Yang bisa saya lakukan adalah menanamkan nilai-nilai kejujuran dan anti korupsi, setidaknya kepada anak-anak saya. Sebuah sumbangsih kecil untuk si kecil yang ayahnya ingin mereka menjadi orang jujur dan antikorupsi.